23 Karyawan Bank Tertipu Trading Forex Rp 17 M

23 Karyawan Bank Tertipu Trading Forex Rp 17 M

23 Karyawan Bank Tertipu Trading Forex Rp 17 M

JawaPos.com – Panji Permana sudah 17 tahun menjadi pialang. Dia ikut program trading Forex. Di antaranya, Insta Forex, XM, Proinsta, dan Okta FX. Dengan keahliannya sebagai pialang, dia mencari investor agar mendapat keuntungan besar. Panji menjanjikan keuntungan 5 persen setiap bulan kepada investornya untuk uang yang dia kelola melalui trading Forex.

Jaksa penuntut umum Lujeng Andayani dalam dakwaannya menyatakan, Panji pada 2014 mendirikan Raga Management. Perusahaan itu tidak memiliki karyawan dan tidak berbadan hukum. Pada tahun yang sama, terdakwa Panji diterima bekerja sebagai karyawan bank pelat merah. Dia menjabat sebagai analis kredit. Kesempatan itu digunakannya untuk mengajak kolega-koleganya sesama karyawan bank tersebut untuk ikut trading Forex dengan keuntungan 5 persen dari uang yang diinvestasikan.

”Terdakwa mengajak teman-teman terdakwa yang bekerja di bank untuk ikut berinvestasi dalam trading Forex di bawah naungan Raga Management yang sebenarnya karangan terdakwa,” ujar jaksa Lujeng dalam dakwaannya di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (18/2).

Dengan jabatannya di bank tersebut dan keuntungan yang dijanjikan, koleganya para karyawan bank tertarik untuk berinvestasi. Apalagi, di bank tempatnya bekerja, Panji mempresentasikan keuntungan-keuntungan yang didapat investor. Selain itu, apabila terjadi wanprestasi, pembayaran keuntungan menjadi tanggung jawabnya.

Panji juga membuat situs trading yang di dalamnya ada lima broker dengan masing-masing memiliki 10 hingga 15 akun untuk lebih meyakinkan. Broker-broker itu di dalam situs menerangkan bahwa investasi trading tidak selamanya untung. Ada kalanya merugi. Namun, terdakwa meyakinkan akan menanggung semua kerugian agar kolega-koleganya mau berinvestasi.

Akhirnya 23 karyawan bank berinvestasi trading Forex melalui terdakwa Panji dengan nilai investasi mencapai Rp 17 miliar. Terdakwa mengikatnya dengan perjanjian atas nama Raga Management agar lebih meyakinkan. Padahal, perusahaan itu fiktif. Uang pembayaran itu sebagian dibelanjakan untuk membeli rumah di perumahan elite di Sidoarjo dan mobil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *