Optimalkan hasil investasi, Raymond Sutanto berani menaruh telur dalam satu keranjang

Optimalkan hasil investasi, Raymond Sutanto berani menaruh telur dalam satu keranjang

Optimalkan hasil investasi, Raymond Sutanto berani menaruh telur dalam satu keranjang

ILUSTRASI. Co-Founder Zipmex Indonesia Raymond Sutanto justru tidak begitu tertarik pada aset selain Bitcoin.

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menyadari pentingnya investasi untuk menambah pundi-pundi, Raymond Sutanto memulai perjalanan investasinya. Ketika usianya memasuki 24 tahun, Co-Founder Zipmex Indonesia ini mencoba menjadi seorang trader.

Saat itu, instrumen saham dan forex jadi pilihannya untuk mendulang cuan. Berbekal dari berbagai buku analisa teknikal yang dibelinya, perjalanannya sebagai trader pun dimulai. Teknik-teknik membaca candlestick dan berbagai indikator teknikal lainnya pun dipelajari.

“Sayangnya gak langsung berbuah manis karena memang enggak ada arahan saat itu. Pada akhirnya jadi momen untuk learning by doing dan cari pengalaman, karena saya merasa penting untuk segera mengenal dunia investasi saat itu,” kenang Raymond kepada Kontan.co.id belum lama ini.

Pada 2011, ia menemukan sebuah teknologi bernama Bitcoin melalui forum-forum online. Sejak saat itu, Raymond langsung tertarik.dan mulai mencari tahu lebih jauh soal Bitcoin dengan membaca seluk-beluk project yang dibuat Satoshi Nakamoto melalui whitepaper. Ia dibuat kagum ketika sudah lebih memahami konsep, cara kerja, dan tujuan dibuatnya Bitcoin.

Menurut Raymond, Bitcoin hadirkan dobrakan karena memiliki konsep desentralisasi dan bisa menjadi uang inklusif bagi semua orang. Menyadari potensi Bitcoin di masa yang akan datang, pria berusia 41 tahun ini pun mulai coba mengoleksi Bitcoin.

Ia mengisahkan, saat itu membeli Bitcoin masih sangat merepotkan karena belum ada exchange seperti sekarang ini. Dia pun memutuskan untuk melakukan mining langsung menggunakan komputernya atau membeli melalui forum. Raymond ingat ketika itu sekali melakukan mining, ia bisa memperoleh lebih dari 50 Bitcoin dan membeli di forum bermodalkan beberapa dolar sudah bisa dapet Bitcoin.

Selepas 2013, sosok yang meraih gelar Bachelor of Business Administration ini bilang sudah tidak terlalu intens ke Bitcoin dan membiarkannya. Ia baru kembali lagi ke dunia Bitcoin pada 2017 ketika harga Bitcoin sudah mulai naik. Sayangnya, kenaikan harga tersebut bukan memberi hasil yang manis baginya, alih-alih, justru kenangan pahit yang terukir.

“Ternyata wallet yang saya gunakan untuk menyimpan Bitcoin sudah tidak lagi bisa diakses karena penyedianya yang sudah tidak beroperasi. Alhasil, seluruh Bitcoin yang dipunyai harus direlakan hilang begitu saja,” ujarnya.

Walau merugi, pria lulusan Bond University Australia ini justru semakin yakin dengan potensi dan prospek Bitcoin. Ia pun mulai membangun lagi portofolio Bitcoinnya melalui mekanisme arbitrage, yakni beli Bitcoin dari luar negeri untuk kemudian dijual di Indonesia. Ia melakukan ini lantaran saat itu, harga Bitcoin di market luar negeri dan market Indonesia bisa berbeda di mana harga beli di luar negeri jauh lebih murah.

Selisih perbedaan harga antara market luar negeri dan dalam negeri itulah yang menjadi profit bagi Raymond. Sejak saat itu hingga sekarang, Raymond masih terus menambah portofolio Bitcoinnya.

Bahkan, ia mengaku 90% portofolio investasinya merupakan Bitcoin. Sementara sisanya pada properti dan aset lain. Baginya, menyimpan telur dalam beberapa keranjang tidak cocok dengan cara investasinya. “Jika return ingin optimal, justru harus menyimpan telur dalam satu keranjang, harus agresif,” kata pria kelahiran Jakarta ini

Bicara soal aset kripto, Raymond justru tidak begitu tertarik pada aset selain Bitcoin. Walaupun keuntungan aset lain bisa lebih menjanjikan dari Bitcoin, ia merasa return dari Bitcoin sudah menjanjikan. Toh dalam beberapa tahun terakhir, instrumen investasi konvensional tidak ada yang memiliki kinerja lebih baik dibanding Bitcoin.

Dia mengingatkan tidak ada salahnya bagi para investor untuk memburu aset kripto selain Bitcoin, bahkan koin micin sekalipun. Namun, terdapat beberapa hal yang harus dimiliki sebelum berinvestasi pada alt coin. Pertama adalah harus bisa melihat tren dan momentum harga sebuah aset kripto. Kedua, perhatikan pertumbuhan komunitas aset tersebut. Ketiga, analis teknikal maupun on-chain.

“Tapi perlu diingat, aset kripto risikonya juga sangat tinggi, jadi ketika semakin tinggi risiko sebuah koin, sebaiknya alokasinya juga jangan terlalu besar. Jangan lupa juga untuk selalu hold Bitcoin,” tambahnya.

Selain itu, dia juga mengingatkan prinsip yang tak kalah penting dalam berinvestasi adalah mempunyai preparsi, dalam hal ini exit strategy. Raymond menyarankan investor untuk punya target harga, jadi harus disiplin mengikutinya. Bisa menggunakan metode Dollar Cost Averaging (DCA) baik untuk masuk maupun keluar.

Berdasarkan pengalamannya, investor sebaiknya tidak terburu nafsu. Umumnya, ketika pasar bullish dan green candle sudah terlalu tinggi, investor justru nafsu untuk masuk. Menurut dia, hal itu kurang bijak, karena pada satu titik, candle tersebut akan jatuh. Sehingga jauh lebih baik untuk bersabar dan masuk pada momentum berikutnya.

“Dari semua hal, yang paling penting adalah melakukan due diligence dan riset terhadap sebuah instrumen. Pastikan sudah tahu mendetail sebuah instrumen investasi, baik itu kripto maupun instrumen lainnya, sebelum memulai investasi,” tutup pria berzodiak Leo ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *